Minggu, 17 Agustus 2014

Apa itu ISO

ISO adalah ukuran sensitivitas  sensor terhadap cahaya. Ukuran dimulai dari angka 50, 80, atau 100 dan akan berlipat ganda sampai 3200 atau lebih besar lagi. ISO dengan ukuran angka kecil berarti sensitivitas terhadap cahaya rendah, ISO dengan angka besar berarti sebaliknya. ISO dengan angka besar atau disebut ISO tinggi akan menurunkan kualitas gambar karena muncul bintik-bintik yang dinamakan  “noise”. Foto akan terlihat berbintik-bintik seperti pasir dan detail yang halus akan hilang. Tapi untuk kondisi yang sulit seperti sedikit cahaya dalam ruangan ISO tinggi sering kali diperlukan
Internasional Standard Organization atau disingkat menjadi ISO, sama artinya dengan ASA (America Standard Organization). Di era kamera analog, ISO dikenal dengan ASA. Dulu ASA tergantung dari film yang terpasang di dalam kamera. Sekarang ISO bisa diubah kapan pun kita menghendaki melalui kamera DSLR

Foto dengan ISO rendah (100) tampak padat dan tajam
Menner Belanda menyebutnya DIN (Deutsche Industrie Norm), yaitu kepekaan sensor CCD menangkap cahaya yang mengenai objek. Semakin tinggi ISO, semakin peka terhadap cahaya. Apabila cahaya dirasa kurang  atau agak gelap, ISO tinggi sangat diperlukan untuk memaksimalkan shutter speed maupun aperture. Artinya, dengan seting ISO tinggi pada pencahayaan minim anda dapat menaikkan shutter speed agar gambar tidak kabur karena getaran kamera DSLR atau memperkecil aperture untuk mendapatkan ruang tajam yang sempurna. Tapi perlu diingat, semakin tinggiISO yang digunakan, akan semakin tinggi tingkat grainy yang dihasilkan. Grainy disini akan membuat gambar tidak tajam, perumpaannya seperti kulit yang pori-porinya terbuka lebar. Sebaliknya, ISO rendah (ASA-60, ASA-100) menghasilkan foto dengan nada warna lebih padat dan sempurna. Pemotretan siang hari diluar ruangan sebaiknya menggunakan  ASA rendah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar